SUBNETTING DAN ROUTING STATIC DI CISCO PACKET TREASER
Pengertian subnetting
Subnetting adalah teknik dalam jaringan komputer yang digunakan untuk membagi satu jaringan besar menjadi beberapa jaringan kecil yang disebut subnet. Tujuan dari subnetting adalah untuk mengatur alokasi alamat IP secara efisien dan memudahkan pengelolaan jaringan. Dalam satu jaringan besar, jika semua perangkat berada dalam satu segmen yang sama, maka broadcast data akan tersebar ke seluruh perangkat, yang dapat memperlambat kinerja jaringan. Dengan subnetting, kita bisa membatasi penyebaran broadcast hanya dalam subnet tersebut.
Saat melakukan subnetting, bagian dari alamat IP yang biasanya digunakan untuk host (perangkat) akan dibagi menjadi beberapa bagian untuk membuat lebih banyak jaringan kecil. Ini memungkinkan sebuah organisasi untuk memisahkan jaringan berdasarkan fungsi, lokasi, atau departemen. Sebagai contoh, perusahaan bisa membuat subnet khusus untuk bagian keuangan, subnet untuk bagian IT, dan subnet lainnya untuk tamu atau pengunjung. Setiap subnet ini bisa diatur dengan aturan keamanan atau kontrol akses yang berbeda.
Subnet mask adalah bagian penting dalam proses subnetting. Subnet mask digunakan untuk menentukan bagian mana dari alamat IP yang menunjukkan jaringan dan bagian mana yang menunjukkan host. Subnet mask memiliki format yang mirip dengan alamat IP, contohnya 255.255.255.0, dan biasanya ditulis juga dalam notasi CIDR seperti /24. Semakin banyak angka 1 dalam subnet mask (dalam bentuk biner), maka semakin kecil jumlah host yang bisa ada dalam subnet tersebut, tapi jumlah subnet yang bisa dibuat akan lebih banyak.
Contohnya, alamat IP 192.168.1.0 dengan subnet mask 255.255.255.0 (/24) memiliki 256 alamat IP dalam satu jaringan, namun hanya 254 yang bisa digunakan untuk perangkat karena dua alamat digunakan untuk network address dan broadcast address. Jika jaringan tersebut hanya memiliki sekitar 30 perangkat, maka banyak alamat IP yang akan terbuang. Maka subnetting bisa dilakukan dengan mengubah subnet mask menjadi 255.255.255.224 (/27) agar satu subnet hanya memuat sekitar 30 alamat IP, dan sisa alamat bisa digunakan untuk subnet lainnya.
Dengan subnetting dan subnet mask, administrator jaringan bisa mengatur pembagian alamat IP secara lebih terstruktur dan efisien. Ini juga membantu dalam mengamankan jaringan, karena perangkat dari subnet yang berbeda tidak bisa langsung saling berkomunikasi tanpa melalui router atau pengaturan khusus. Secara keseluruhan, subnetting adalah dasar penting dalam perancangan dan pengelolaan jaringan komputer, terutama dalam skala menengah hingga besar.
1. TABEL HASIL SUBNETTING
| Lantai | IP Network | IP Awal | IP Akhir | IP Broadcast |
|---|---|---|---|---|
| Lantai 1 | 192.168.26.0 | 192.168.26.1 | 192.168.26.14 | 192.168.26.15 |
| Lantai 2 | 192.168.26.16 | 192.168.26.17 | 192.168.26.30 | 192.168.26.31 |
| Lantai 3 | 192.168.26.32 | 192.168.26.33 | 192.168.26.46 | 192.168.26.47 |
| Lantai 4 | 192.168.26.48 | 192.168.26.49 | 192.168.26.62 | 192.168.26.63 |
| Lantai 5 | 192.168.26.64 | 192.168.26.65 | 192.168.26.78 | 192.168.26.79 |
| Lantai 6 | 192.168.26.80 | 192.168.26.81 | 192.168.26.94 | 192.168.26.95 |
| Lantai 7 | 192.168.26.96 | 192.168.26.97 | 192.168.26.110 | 192.168.26.111 |
| Lantai 8 | 192.168.26.112 | 192.168.26.113 | 192.168.26.126 | 192.168.26.127 |
| Lantai 9 | 192.168.26.128 | 192.168.26.129 | 192.168.26.142 | 192.168.26.143 |
| Lantai 10 | 192.168.26.144 | 192.168.26.145 | 192.168.26.158 | 192.168.26.159 |
| Lantai 11 | 192.168.26.160 | 192.168.26.161 | 192.168.26.174 | 192.168.26.175 |
| Lantai 12 | 192.168.26.176 | 192.168.26.177 | 192.168.26.190 | 192.168.26.191 |
| Lantai 13 | 192.168.26.192 | 192.168.26.193 | 192.168.26.206 | 192.168.26.207 |
| Lantai 14 | 192.168.26.208 | 192.168.26.209 | 192.168.26.222 | 192.168.26.223 |
| Lantai 15 | 192.168.26.224 | 192.168.26.225 | 192.168.26.238 | 192.168.26.239 |
| Lantai 16 | 192.168.26.240 | 192.168.26.241 | 192.168.26.254 | 192.168.26.255 |
Penjelasan:
Subnet mask :
| 11111111 | 11111111 | 11111111 | 11110000 | /28 |
| 255 | 255 | 255 | 240 |
Jumlah subnet : 24 = 16 subnet
Jumlah host : 24 - 2 = 14 host
Blok Subnet : 256 - 240 = 16
2. TOPOLOGI
Topologi pada proyek ini merupakan hasil dari konfigurasi routing statik yang telah dibuat menggunakan Cisco Packet Tracer. Gambar topologi memperlihatkan bagaimana tiap perangkat seperti PC, switch, dan router saling terhubung antar blok/lantai melalui jalur yang telah diatur, sehingga membentuk satu jaringan terintegrasi.
3. SIMULASI JARINGAN
Untuk membuat contoh simulasi jaringan kita buat saja 2 ruangan dengan menggunakan lantai 11 dan lantai 12 . Berikut simulasi jaringan nya :
1. Buka Cisco packet treaser
2. Buatlah 2 ruangan di CPT didalam ruangan tersebut masukkan 5 pc, 1 switch dan 1 router(1841) ke setiap ruangan. Setelah itu sambung kan antara pc dengan menggunakan kabel straight, lalu sambungkan antara switch dengan router menggunakan kabel straight dan setelah itu sambungkan router 1 dengan router ke dua dengan menggunakan kabel Cooper cross-over
3. Konfigurasi IP pada PC pertama ruangan 11 dilakukan dengan membuka tab Desktop > IP Configuration. IP Address diisi 192.168.26.162, Subnet Mask 255.255.255.240, dan Default Gateway 192.168.26.161. Lakukan hal yang sama pada keempat PC lainnya dengan IP berurutan, namun tidak boleh melebihi 192.168.26.175
3. Untuk lantai 2, buka PC pertama, masuk ke tab Desktop > IP Configuration. Masukkan IP Address 192.168.26.178, Subnet Mask 255.255.255.240, dan Default Gateway 192.168.26.177. Ulangi langkah yang sama pada empat PC lainnya, pastikan IP tidak melebihi 192.168.26.191
4. Masuk ke router ruangan 1 , buka tab Config. Pilih antarmuka FastEthernet0/0 yang terhubung ke switch ruangan 1. Aktifkan port-nya (centang On), lalu isi IP Address 192.168.26.161 dengan subnet mask 255.255.255.240. Ini jadi gateway untuk semua PC di ruangan 1. Lanjut, pilih antarmuka FastEthernet0/1 yang terhubung ke router ruangan 2.Aktifkan juga, lalu masukkan IP Address 10.10.10.1 dengan subnet mask 255.255.255.240.
5. Klik router ruangan 2, masuk ke tab Config, terus buka FastEthernet0/0 yang nyambung ke switch di ruangan 2 . Aktifin dengan centang On, lalu isi IP Address 192.168.26.177 dan subnet mask 255.255.255.240. Ini jadi gateway buat semua PC di ruangan 2. Lanjut ke FastEthernet0/1, yang nyambung ke router ruangan 1 . Aktifin juga, isi IP Address 10.10.10.2 dan subnet mask 255.255.255.240.
6. Buka router ruangan 1 , masuk ke tab Config lalu pilih Static. Tambahkan rute ke jaringan 192.168.26.176 dengan subnet mask 255.255.255.240 melalui next hop 10.10.10.2. Simpan perubahan, lalu router ruangan 1 akan bisa berkomunikasi dengan ruangan 2.
7. Buka router ruangan 2, lalu masuk ke tab Config dan pilih Static. Masukkan rute menuju jaringan 192.168.26.160 dengan subnet mask 255.255.255.240 melalui alamat next hop 10.10.10.1. Setelah disimpan, router ruangan 2 akan bisa mengakses jaringan ruangan 1.
8. Untuk menguji konektivitas antar perangkat, klik ikon Add Simple PDU (berbentuk amplop petir) di sisi kanan layar. Setelah itu, klik pada PC pertama di ruangan 1, lalu klik salah satu PC di ruangan 2 sebagai tujuan. Jika konfigurasi IP dan routing sudah benar, akan muncul notifikasi "Successful" dengan tanda centang hijau di bagian bawah layar. Kalau muncul tanda silang merah atau pesan "Failed", itu artinya masih ada kesalahan konfigurasi IP atau routing yang perlu diperiksa. Lakukan hal yang sama pada PC lainnya untuk memastikan semua koneksi antar lantai berhasil.
9. Tampilan hasil simulasi












Komentar
Posting Komentar